
Bupati Pacitan Pimpin Upacara Detik-Detik Proklamasi HUT ke-81 RI dari Kedalaman Goa Luweng Ombo
PACITAN — Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji secara langsung melaksanakan dan memimpin Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dari mulut Goa Luweng Ombo, Desa Kalak, Kecamatan Donorojo. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang rutin digelar di Pendopo Kabupaten, Bupati Pacitan memilih untuk turun langsung dan mengumandangkan semangat kemerdekaan tepat di lokasi goa vertikal tersebut. Sebelum memimpin prosesi utama, Bupati Pacitan meninjau kesiapan teknis sekaligus menjajal turun ke kedalaman goa sejauh 110 meter menggunakan perlengkapan caving standar keamanan tinggi. “Ini pengalaman pertama saya turun ke Luweng Ombo kedalaman 110 meter. Semoga seluruh rangkaian acara hari ini berjalan lancar, aman, dan pengibaran bendera Merah Putih di kedalaman bumi Pacitan dapat terlaksana sesuai rencana,” ujar Bupati Pacitan di lokasi. Baca Juga Mendapat Penghargaan Sebagai Tokoh Penggerak Dan Pelestari Budaya Nasional. Bupati: Ini Bukan Sekedar Menjaga Tradisi Tapi Bagian Strategi Pembangunan Pelaksanaan Upacara Detik-Detik Proklamasi oleh Bupati di goa terdalam se-Pulau Jawa ini ditandai dengan pengibaran bendera Merah Putih raksasa berukuran 22 meter x 17 meter di mulut Goa Luweng Ombo. Keputusan Bupati untuk melaksanakan upacara dari lokasi ini menjadi simbol kuat bahwa semangat kemerdekaan diwujudkan melalui keberanian mengeksplorasi, mengenali, dan menjaga potensi kekayaan geologi serta ilmu pengetahuan bawah tanah Nusantara. Momen bersejarah yang terintegrasi dengan Gahvara Yava Expedition 2026 ini turut diikuti oleh Tim Ekspedisi Merah Putih, tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), penjelajah gua (caver) Nusantara, peserta Pacitan Merdeka Run 2026 (rute 8,1 km dari Pantai Karangbolong), serta masyarakat setempat. Pemerintah Kabupaten Pacitan memastikan seluruh rangkaian peringatan HUT ke-81 RI berjalan tertib dan khidmat. (PemkabPacitan)

Ciptakan Sejarah Baru Speleologi Indonesia, Ekspedisi Gahvara Yava 2026 Tembus Titik Terdalam Pulau Jawa di Luweng Ombo
PACITAN – Sejarah baru dalam dunia speleologi dan eksplorasi bawah tanah Indonesia resmi tercipta di tanah Pacitan. Tim Ekspedisi Gahvara Yava 2026 berhasil mencatatkan rekor monumental dalam kegiatan pemetaan dan penelusuran Sistem Gua Luweng Ombo – Kebon yang berlangsung pada 13 hingga 14 Agustus 2026. Capaian strategis ini mengukuhkan kawasan Karst Pacitan sebagai salah satu laboratorium alam dan bentang speleologi paling potensial di Asia Tenggara. Dalam ekspedisi tersebut, tim pemetaan (mapping team) berhasil menambahkan panjang lorong terpetakan sejauh 1.242,5 meter. Penambahan ini secara signifikan meningkatkan total panjang Sistem Luweng Ombo – Kebon menjadi 8.242,5 meter. Hasil tersebut resmi melesatkan posisi Sistem Ombo – Kebon dari peringkat ke-9 naik ke peringkat ke-7 sebagai gua terpanjang di Indonesia. Tembus Titik Terdalam dan Temuan Lorong Baru Tak hanya memperpanjang rekor pemetaan lorong, tim eksplorasi juga mengukir rekor kedalaman. Pada Kamis, 13 Agustus 2026 pukul 18.40 WIB, tim berhasil menyentuh titik SUMP—titik air permanen yang menjadi batas terdalam dalam sistem gua—pada kedalaman -246 meter di bawah permukaan tanah. Pencapaian ini menobatkan Tim Ekspedisi Gahvara Yava 2026 sebagai tim asal Indonesia pertama yang berhasil mencapai titik terdalam gua di Pulau Jawa. Melanjutkan estafet pemetaan yang pernah dilakukan oleh tim peneliti asing sejak tahun 1982, tim Indonesia ini juga berhasil memetakan lorong raksasa sejauh 20 meter melintasi titik SUMP. Lorong megah yang memiliki aliran sungai bawah tanah yang lebar dan dalam tersebut disepakati untuk diberi nama Gahvara Yava Chamber. Baca Juga Lantik Puluhan Pejabat di Bulan Rajab, Bupati Pacitan Tekankan Pelayanan yang Membawa Keberkahan Saat ini, lorong tersebut menyandang status Continue Unexplored (CUE), yang menandakan bahwa sistem lorong bawah tanah ini masih membentang luas dan menyimpan potensi eksplorasi lanjutan di masa depan. Dukungan Sains dan Riset Kebangsaan Selain pemetaan geografis, ekspedisi ini membawa misi ilmiah bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tim berhasil mengambil sejumlah sampel penting berupa sedimen, sampel air sungai bawah tanah, serta beberapa biota khas gua dari berbagai titik di Sistem Ombo – Kebon untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium. Pengarah Ekspedisi Gahvara Yava 2026, M. Iqbal Willianto, mengungkapkan rasa bangga atas keberhasilan seluruh anggota tim yang telah berjuang menembus batas eksplorasi bawah tanah Nusantara. Baca Juga Safari Ramadhan di Tulakan, Bupati Pacitan Ajak Warga Perkuat Ukhuwwah Islamiyah “Sejarah baru speleologi Indonesia berhasil kami ciptakan di tanah Pacitan. Capaian ini bukan sekadar angka pemetaan, melainkan persembahan nyata dari Tim Gahvara Yava 2026 untuk Kabupaten Pacitan dan Indonesia dalam memperkaya data geologi serta keanekaragaman hayati kawasan karst kita,” ujar M. Iqbal Willianto. Temuan monumental ini diharapkan menjadi pijakan penting bagi Pemerintah Kabupaten Pacitan, peneliti, serta pengelola kawasan Geopark Pacitan dalam memperkuat upaya konservasi lingkungan, perlindungan sumber daya air bawah tanah, serta pengembangan ilmu pengetahuan berbasis kawasan karst di masa mendatang. (Pemkab Pacitan)

BPBD Se-Jatim Gelar Peralatan Kebencanaan di Pacitan
BPBD Se-Jatim Gelar Peralatan Kebencanaan di Pacitan. Bupati: Berharap Kolaborasi Dan Komunikasi Antar Daerah Tejaga Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji menghadiri Gelar Peralatan Penanggulangan Bencana 2026 di Pantai Pancer Door Pacitan. Kegiatan yang melibatkan seluruh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) se-Jawa Timur tersebut dibuka Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Bobby Soemiarsono. “kesiapsiagaan menjadi faktor paling menentukan dalam mengurangi risiko bencana” katanya, Selasa (21/07). Menurutnya Jawa Timur merupakan daerah yang relatif rawan bencana. Karena itu kesiapsiagaan menjadi kunci utama. Gelar peralatan ini untuk memastikan keterpaduan antara peralatan dan personel, untuk itu seluruh peralatan yang digelar harus dipastikan siap dioperasikan oleh personel BPBD. Sementara, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji mengapresiasi kepercayaan menjadikan Pacitan sebagai tuan rumah kegiatan tersebut. Ia berharap momentum ini semakin memperkuat komunikasi dan kerja sama antar-BPBD di Jawa Timur. “Saya berharap kolaborasi dan komunikasi antar daerah semakin terjaga,” ungkap bupati. Selain gelar peralatan kebencanaan, rangkaian kegiatan yang akan berlangsung 21-24 Juli tersebut juga diisi dengan simulasi penanggulangan bencana serta fun game sebagai sarana mempererat kebersamaan antar personel BPBD se-Jawa Timur. #prokopimpacitan #pemkabpacitan #bpbd #pacitan #pacitan70mileseaparadise

Desa Nogosari Pacitan Dinilai Mabes Polri, Sinergi Tiga Pilar Jadi Contoh Penguatan Kamtibmas Nasional
Semangat gotong royong dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat kembali mengantarkan Kabupaten Pacitan ke panggung nasional. Desa Nogosari, Kecamatan Ngadirojo, menjadi lokasi penilaian Lomba Tiga Pilar Kamtibmas Tahun 2026 yang dilaksanakan Tim Penilai dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), Selasa (14/7/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Balai Desa Nogosari tersebut berlangsung mulai pukul 08.00 WIB dan dihadiri unsur Pemerintah Kabupaten Pacitan, TNI, Polri, pemerintah desa, serta berbagai elemen masyarakat. Kehadiran tim penilai menjadi bagian dari rangkaian evaluasi terhadap implementasi sinergi Tiga Pilar Kamtibmas, yakni kepala desa, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa, dalam membangun keamanan, ketertiban, serta ketahanan sosial di tingkat desa. Tim penilai Mabes Polri dipimpin Direktur Pembinaan Ketertiban Masyarakat (Dirbintibmas) Korbinmas Baharkam Polri Brigjen Pol. Dr. John Carles Edison Nababan, S.I.K., M.H., yang menggantikan Brigjen Pol. M. Rudy Syafirudin, S.I.K., S.H. Turut mendampingi dalam penilaian tersebut Kombes Pol. Muchamad Budi Hendrawan, S.I.K., M.H., AKBP Rini Pamungkas, S.H., S.I.K., M.Si., M.Tr.Opsla, AKP Dinda Clara Amandasari, S.T.K., S.I.K., serta Brigadir Puji Lestari, S.H. Dalam proses penilaian, tim melakukan observasi secara menyeluruh terhadap implementasi kolaborasi Tiga Pilar di Desa Nogosari. Berbagai aspek menjadi perhatian, mulai dari upaya menjaga stabilitas keamanan lingkungan, penyelesaian persoalan sosial secara preventif, kedekatan aparat dengan masyarakat, hingga partisipasi aktif warga dalam menciptakan situasi yang aman, tertib, dan kondusif. Desa Nogosari dipilih karena dinilai mampu merepresentasikan sinergitas yang kuat antara pemerintah desa, TNI, Polri, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut tidak hanya tercermin dalam komunikasi yang intensif dan penyelesaian berbagai persoalan secara humanis, tetapi juga didukung oleh berbagai inovasi yang memperkuat sistem keamanan desa. Salah satu bentuk inovasi tersebut adalah keberadaan jaringan kamera pengawas (CCTV) yang tersebar di sejumlah titik strategis desa, pengelolaan kebun pertanian desa sebagai bagian dari ketahanan pangan, serta berbagai program berbasis pemberdayaan masyarakat. Tak hanya itu, Desa Nogosari juga memiliki sejumlah program unggulan, seperti Trisula Naga dan E-Thithir, yang menjadi bagian dari strategi memperkuat keamanan dan ketertiban masyarakat berbasis kolaborasi. Inovasi-inovasi tersebut sebelumnya juga berhasil mengantarkan Desa Nogosari meraih Juara I Lomba Tiga Pilar Kamtibmas tingkat Polda Jawa Timur, sehingga dipercaya mewakili Jawa Timur pada penilaian tingkat nasional, berkompetisi dengan 9 desa lainnya dari seluruh Indonesia. Kekompakan yang terbangun antara pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta masyarakat menjadi modal utama dalam mewujudkan keamanan yang berbasis partisipasi warga. Keharmonisan tersebut sekaligus memperkuat ketahanan desa dalam menghadapi berbagai tantangan sosial yang terus berkembang. Pemerintah Kabupaten Pacitan menyambut baik pelaksanaan penilaian ini sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama lintas sektor yang selama ini terjalin. Momentum tersebut diharapkan semakin memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas keamanan sekaligus mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan. Kepala Bagian Pemerintahan dan Kerja Sama Sekretariat Daerah Kabupaten Pacitan, Hesti Suteki, mengatakan kunjungan Tim Mabes Polri merupakan bagian dari agenda penilaian Lomba Tiga Pilar Kamtibmas Tahun 2026 yang dipusatkan di Desa Nogosari. “Melalui kegiatan ini, Kabupaten Pacitan berharap sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, pemerintah desa, dan masyarakat semakin kokoh, sehingga semangat gotong royong dalam menjaga keamanan dan ketertiban dapat terus tumbuh sebagai budaya yang mengakar di tengah kehidupan masyarakat,” tegas Hesti. Dengan penilaian tingkat nasional ini, Desa Nogosari tidak hanya membawa nama baik Kabupaten Pacitan dan Jawa Timur, tetapi juga menunjukkan bahwa keamanan yang berkelanjutan lahir dari kebersamaan, komunikasi yang harmonis, serta kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga desa tetap aman, damai, dan sejahtera. (pemkabpacitan)






