PPID Kabupaten Pacitan | 0357 882114
 

Dua Tenaga Kesehatan Pacitan Raih Juara Teladan Tingkat Provinsi Jawa Timur

Pacitan – Cahaya kegembiraan kembali terpancar dari langit Kabupaten Pacitan. Dua orang abdi negara asal Kota 1001 Gua dinobatkan sebagai tenaga kesehatan teladan tingkat Provinsi Jawa Timur. Mereka adalah dr Rini Endrawati mewakili kategori dokter dan Febriyan, S.Km dari unsur tenaga penyuluh kesehatan. Keduanya bertugas di Puskesmas Bubakan, Kecamatan Tulakan.

“Kami sampaikan terimakasih kepada Bapak Bupati, Bapak Wabup, Dinas Kesehatan, Forum Peduli Kesehatan, warga masyarakat, dan semua pihak yang atas perhatian dan dukungan terhadap program di Puskesmas Bubakan,“ kata Kepala Puskesmas Bubakan, Rini Endrawati saat berbincang di Program Spirit Pagi Radio Suara Pacitan (RSP), Rabu (31/5/2017) pagi.
Perempuan kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah itu menuturkan kompetisi ini merupakan agenda rutin Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Tahun ini, Kabupaten Pacitan mengirimkan empat nominator ke ajang bergengsi tingkat provinsi tersebut. Selain nama dr Rini dan Febriyan ada dua tenaga kesehatan lain yang dinominasikan. Yakni seorang perawat asal Puskesmas Sudimoro dan bidan dari Kecamatan Kebonagung.
Rini mengatakan salah satu poin penilaian adalah inovasi peningkatan layanan kesehatan di puskesmas yang ia pimpin dalam empat tahun terakhir. Terobosan itu sekaligus mengantarkan Puskesmas Bubakan menjadi yang terbaik se-Kabupaten Pacitan. Selama dua tahun berturut-turut sejak 2015, puskesmas di wilayah timur tersebut dinobatkan sebagai puskesmas inovatif.
Menurut Rini, puskesmas tempatnya bekerja selama ini memiliki beberapa inovasi guna meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat. Antara lain Hamil Pintar dan Intel HIV. Hamil Pintar merupakan terobosan membangun kesadaran ibu hamil memeriksakan diri ke Puskesmas. Alasannya, selama puluhan tahun angka kunjungan ibu hamil sangat rendah. Pun saat menginjakkan kaki pertama kalinya di Puskesmas Bubakan tahun 2013, dr Rini belum mendapati pemeriksaan sesuai standar.
“Itu yang memotivasi saya untuk membuat inovasi agar seluruh ibu hamil di wilayah kami paham akan semua pemeriksaan kehamilan yang harus mereka dapatkan,“ tuturnya dihubungi melalui sambungan telepon.
Adapun dalam implementasi inovasi Intel HIV, lanjut Rini, pihaknya berupaya membangun pemahaman masyarakat terhadap sindroma penurunan kekebalan tubuh tersebut. Ini dimulai dari tahap mengenali kelompok berisiko menularkan virus HIV. Selanjutnya masyarakat diharapkan pro aktif melaporkan kepada petugas kesehatan. Laporan tersebut menjadi acuan pihak puskesmas turun ke lokasi guna menjaring kasus.
“Intel HIV ini merupakan program pemberdayaan masyarakat dalam rangka menangani kasus yang ada di wilayah kami,“ imbuhnya seraya menjelaskan jika HIV di Kabupaten Pacitan merupakan fenomena gunung es.
Selama empat tahun terakhir, angka penderita HIV di wilayah Puskesmas Bubakan mencapai 43 orang. Jumlah tersebut adalah tertinggi di Kabupaten Pacitan. Angka sebanyak itu sebagian besar diketahui melalui peran Intel HIV. Di sisi lain, lanjut Rini, pemahaman masyarakat terhadap penyakit tersebut cukup tinggi. Ini ditandai tidak adanya lagi stigma negatif terhadap golongan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Tidak itu saja, keberadaan ODHA juga diberdayakan dengan memberikan bantuan stimulan.
“Kami berharap masyarakat dapat menikmati inovasi kami. Karena jika demikian halnya berarti program kesehatan yang ada benar-benar menyentuh masyarakat,“ harap dokter murah senyum itu. (ps/ps)
 
 

Share this Post



 
 
 
 

Add a comment

required

required

optional